Judul : Ketika
Nabi di Kota: Kisah Sehari-Hari Nabi di Madinah (Menata Sendi-Sendi Ekonomi,
Sosial dan Politik)
Penulis : Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah : Asy’ari Khatib
Penerbit : Zaman, Jakarta
Cetakan : I, 2010
Tebal : 603 Halaman
ISBN : 978-979-024-232-6
Suatu hari penduduk Yatsrib berkerumun di setiap sudut
kota. Mereka sedang menanti kedatangan utusan Allah beserta rombangan.
Kerumunan itu dipenuhi laki-laki, perempuan, orang tua renta sampai anak-anak.
Ketika salah satu warga melihat rombongan Nabi saw. tiba
di tepi Yatsrib, serontak keramaian suara penyambutan pun bergelegar. Peristiwa
bersejarah ini dikenal dengan nama hijrah, yang terjadi pada tahun 622 Masehi.
Nabi melakukan hijrah berkaitan dengan kondisi
sosio-politik Mekkah. Keadaan itu tidak memungkinkan Nabi saw. untuk terus
bermukim dan menyebarkan Islam di Mekkah. Dengan beberapa pertimbangan, Nabi
saw. pun memilih Madinah sebagai wilayah transmigrasinya.
Madinah merupakan perkampungan yang terletak sebelah
utara Mekkah. Secara geografis, Madinah cocok untuk pertanian. Kondisi itu
berbeda dengan Mekkah yang kering dan gersang, sehingga tidak cocok untuk lahan
pertanian. Daerah yang mulanya bernama Yatsrib ini sangat strategis untuk
perdagangan karena terletak pada jalur rempah-rempah yang menghubungkan Yaman
dan Suriah.
Oleh sebab itu masyarakat Madinah lebih memilih menetap
dibanding nomaden (berpindah-pindah), seperti masyarakat Arab pada umumnya.
Masyarakat Madinah memiliki struktur terdiri atas beragam etnis, suku, dan
agama. Hal ini disebabkan penduduk yang ada di Madinah merupakan masyarakat
urban dari berbagai kabilah.
Madinah menjadi pusat peradaban Islam yang cemerlang
diantara imperium Persia dan Romawi. Sendi-sendi peradaban dirintis Nabi dengan
membangun pusat ekonomi, spiritual dan pusat pemerintahan pun menjadi prioritas
Nabi.
Madinah menjadi wilayah suci bagi umat Islam setelah
Mekkah. Nabi saw. bersabda, Madinah adalah haram dari tempat ini hingga tempat
ini, tidak boleh dipotong pepohonannya, tidak boleh dilakukan kejahatan di
dalamnya. Barangsiapa melakukan kejahatan di dalamnya maka baginya laknat
Allah, para melaikat dan seluruh manusia (HR. Imam al-Bukhari).
Nizar Abazhah mengajak kita untuk berwisata ke kota
Madinah itu melalui fiksi yang dibalut dengan sejarah dengan apik. Abazhah
menyuguhkan dengan cerita yang diambil dari sumber ‘aslinya’, yakni al-Qur’an
dan Hadis. Maka, novel ini dapat dikatakan bukan fiksi belaka, tapi benar-benar
sejarah peradaban Islam.
Kita diajak untuk menelusuri secara lengkap seluk-beluk
kehidupan Nabi saw. di Madinah dengan alur yang sistematis. Dewasa ini belum
banyak novel yang menguraikan kehidupan Nabi saw. secara khusus di Madinah
dengan lengkap dan kritis seperti halnya dengan novel ini.
Untuk membangun sebuah peradaban, Nabi saw. banyak
membangunan fasilitas umum. Misalnya, pusat perekonomian, hutan lindung, kebun,
sumur, dan lembah-lembah. Nabi juga mengajarkan kepada masyarakat sekitar untuk
hidup bersama tanpa membedakan tingkat dan status sosial.
Aspek tidak kalah
penting lainnya adalah ‘pembangunan’ sumber daya manusia. Nabi saw. ingin
membangun tatanan masyarakat yang kukuh, memiliki solidaritas kuat dan hubungan
sosial yang erat (hlm. 84). Semua aspek pembangunan di Madinah dilandaskan pada
nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah.
Untuk memperoleh
bangunan masyarakat baru tersebut, Nabi menyususn asas-asas pedoman hidup.
Yaitu asas persamaan hak dan kewajiban pada seluruh tingkat masyarakat dan
harus dipenuhi oleh setiap individu sesuai kedudukan masing-masing (halaman
87). Dalam sendi politik, Nabi menyusun asas-asas negara yang akan mengalahkan
imperium Romawi.
Dalam sendi ekonomi, Nabi menegakkan kejujuran dan
ekonomi berbasis kerakyatan. Nabi juga menyusun asas-asas hukum yang adil.
Untuk itu Nabi membentuk lembaga, semacam menteri, ekonomi, politik, hukum, dan
sebagainya. Nabi sendiri sebagai kepala negara di Madinah. Hampir semua
peristiwa dan momen-momen bersejarah terekam secara apik dalam novel ini.
Tidak dapat diragukan buku ini memiliki keunggulan yang
profetik. Buku ini tidak hanya cocok bagi peminat sastra, tetapi juga relevan
bagi penggila sejarah. Walaupun, kekecewaan akan dirasakan oleh para pengagum
sastra, karena kita tidak akan menemukan bahasa yang menjulang dengan rangkaian
keindahan dan majaz-majaz yang menghiasi. Jadi, buku ini layak dibaca oleh
semua kalangan.
*) Peresensi adalah Ahmad Suhendra, Alumni UIN Sunan
Kalijaga.
(sumber : http://belajar-resensibuku.blogspot.com)

Mari berpartisipasi dalam membangun pelayanan kami.
Tinggalkan komentar agar kami bisa lebih baik untuk kedepannya :)